Salah satu kesulitan siswa dalam mata pelajaran bahasa
Indonesia, khususnya dalam ragam bahasa tulisan adalah menulis ejaan yang benar sesuai dengan kaidah yang
berlaku. Hal itu dapat dilihat pada karya-karya siswa, misalnya dalam menulis
makalah, menulis esai, menulis artikel, dan lain-lain., masalah penulisan ejaan masih
banyak sekali yang salah.
EJAAN (Spelling) adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan
bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya.) dalam
bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Ejaan meliputi pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian
tanda baca, penulisan unsur serapan, dan pedoman pemenggalan kata.
Dalam pembakuan bahasa, ejaan berfungsi sebagai:
a. landasan
pembakuan tata bahasa,
b. landasan pembakuan kosakata dan peristilahan, serta
c. alat penyaring
masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.
Pada pemakaian huruf, misalnya penulisan huruf kapital
(hurup besar), masih sering kita mendapatkan dalam tulisan siswa, nama kota
masih ditulis dengan kecil, misalnya bandung, nama orang misalnya dedi, dsb.
Huruf Kapital ini digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat, misalnya: Dia mengantuk karena tidak tidur semalam,
pada huruf pertama petikan langsung,
contoh: Adik bertanya, ”Kapan kita pulang?”
Pada penulisan nama agama, contoh: Islam,
Kristen, Hindu, pada nama Tuhan, contoh:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih. Nama kitab suci: Alkitab,
Quran, Alquran, (Al-Qur’an= tidak baku), Weda,
kata ganti untuk Tuhan: Nya, Mu,
Engkau, contoh: “Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya” atau
“Bimbinglah hamba-Mu ya Tuhan ke jalan yang Engkau beri rahmat. dan sebagainya.
Huruf kapital ini digunakan pula pada huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama orang, contoh:
Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Nabi Musa, dll.
Jika tidak diikuti nama orang, penulisannya kecil saja. Contoh: “Dia baru saja
diangkat menjadi sultan”, “Tahun ini ia pergi naik haji,” dan lain-lain.
Huruf kapital digunakan pada nama jabatan, pangkat yang
diikuti nama orang, nama instansi atau nama tempat, contoh: Wakil Presiden
Jusuf Kalla, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Prof. Dr. Didi, Laksamana
Muda Udara Husen Sastranegara, Gubernur Jabar, dsb., tetapi jika tidak diikuti
nama orang/ tempat, kecil saja, contoh: “Siapakah gubernur yang baru dilantik
itu?”
Huruf kapital
digunakan pada huruf pertama unsur-unsur nama orang, tetapi jika nama orang tersebut digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran, penulisannya huruf kecil saja.
Contoh:
Amir Hamzah, Dewi
Sartika, Diesel, Ampere, mesin diesel,
10 volt, 5 ampere.
Huruf
pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa, tetapi tidak dipakai untuk bentuk
dasar kata turunan. Contoh: bangsa
Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris, mengindonesiakan kata asing,
keinggris-inggrisan, kejawa-jawaan, dan lain-lain.***
No comments:
Post a Comment